Museum Proklamasi
Sejarah, Nasional

Pahlawan Nasional : Ki Hajar Dewantara Seorang Pendidikan 1922

Ki Hajar Dewantara (juga dikenal sebagai Raden Mas Soewardi Soerjaningrat), 1889-1959, adalah seorang penulis, kolumnis, politikus dan pembela kemerdekaan Indonesia dari kekuasaan kolonial Belanda. Namun, ia mungkin paling dikenang karena peran perintisnya dalam pengembangan pendidikan di koloni Indonesia. 

Ki Hajar Dewantara
Mata uang 20 Ribu | Ki Hajar Dewantara

Berasal dari Yogyakarta (Jawa), Dewantara mendirikan sekolah Taman Siswa pada tahun 1922 di Yogyakarta. Sekolah ini memberikan pendidikan bagi penduduk asli Indonesia, padahal sebelumnya pendidikan hanya terbatas pada kolonial Belanda dan bangsawan Jawa.

Lahir dari keluarga bangsawan Jawa ( priyayi ) Dewantara mampu mengenyam pendidikan di Hindia Belanda: Sekolah Dasar (ELS) dan STOVIA (Sekolah Kedokteran Pribumi). Namun, dia tidak menyelesaikan STOVIA karena sakit. Sebaliknya dia mulai bekerja sebagai jurnalis, menulis untuk beberapa surat kabar.

Pahlawan Nasional : Ki hajar Dewantara Seorang Pendidikan 1922

Semasa sebagai jurnalis, Dewantara semakin aktif dalam gerakan sosial dan politik yang bertujuan untuk merongrong kekuasaan Belanda di Nusantara . Artikelnya di media cetak dijiwai dengan sentimen anti-kolonial. Dewantara memiliki hubungan dekat dengan Boedi Oetomo (institusi politik pribumi pertama di Hindia Belanda dan yang memainkan peran kunci dalam Kebangkitan Nasional Indonesia).

Pada 13 Juli 1913 Dewantara menerbitkan artikel di koran ‘De Expres’, berjudul “If I Were a Dutchman”. Artikel ini memuat kritik pedas terhadap rencana penjajah Belanda untuk memungut retribusi dari penduduk asli untuk membiayai perayaan-perayaan terkait perayaan 100 tahun kemerdekaan Belanda dari Prancis. 

Ki Hajar Dewantara

Penguasa Belanda tidak mengizinkan kritik semacam itu dan menangkap Dewantara – bersama dengan rekan-rekannya, Ernest Douwes Dekker dan Tjipto Mangoenkoesoemo – dan mereka diasingkan ke Belanda (pengasingan itu juga akibat aktivitas mereka di Indische Partij , salah satu politikus pertama. organisasi perintis nasionalisme Indonesia di rezim kolonial).

Baca Juga  Cara Daftar Online UMSU 2021/2022 Terbaru

Selama pengasingannya di Belanda Dewantara memperoleh Sertifikat Guru Eropa dan ia berkenalan dengan gagasan Montessori dan Froebel, pelopor pendidikan barat. Beberapa tahun kemudian ketika ia kembali ke Nusantara ia pertama kali mendirikan sekolah di Yogyakarta bersama kakaknya. Kemudian, pada 1922, ia mendirikan sekolah Taman Siswa. Sebelum Taman Siswa, pendidikan di Nusantara hanya terbuka untuk orang Belanda dan orang pribumi yang merupakan bagian dari bangsawan (termasuk Dewantara). 

Selain pengetahuan umum, santri juga diajarkan mencintai Nusantara dan menghargai kesetaraan sosial (Ki Hajar Dewantara sendiri kemudian mencoret gelar Raden Mas di depan namanya sebagai isyarat untuk mendukung kesetaraan sosial).

Selama periode Jepang (1942-1945) Dewantara, Soekarno , Muhammad Hatta dan KH Mas Mansur diangkat sebagai pemimpin Pusat Tenaga Rakyat ( Pusat Tenaga Rakyat ), sebuah organisasi payung yang disponsori Jepang untuk semua organisasi nasionalis di Jawa dan Madura. Setelah kemerdekaan, Dewantara diangkat menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan pada kabinet pertama Soekarno.

Fakta Menarik:

 Setiap tahun, pada tanggal 2 Mei (hari lahir Dewantara), Indonesia merayakan Hari Pendidikan Nasional.

  Dewantara dikreditkan karena menciptakan pepatah Jawa ” ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani “, yang berarti “yang di depan harus memberi contoh, yang di tengah harus membangkitkan semangat, dan yang di belakang harus beri semangat “. Bagian Tut Wuri Handayani masih digunakan sampai sekarang sebagai semboyan Kementerian Pendidikan Indonesia.

Source Kok Bisa? Channel